Senin, 11 Desember 2017

PENGERTIAN KEKUASAAN DALAM DINAMIKA KELOMPOK

PENGERTIAN KEKUASAAN
Kekuasaan adalah kemampuan membuat orang lain melakukan apa yang diinginkan seseorang untuk mereka lakukan (Gibson, Ivancevich, Donnelly, Konopaske, 2012:291). Apabila dipergunakan untuk kebaikan organisasi, kekuasaan merupakan keuatan positif untuk mencapai efektivitas organisasi tingkat tinggi.
            Robbins dan Judge, (2011:454) memberikan pengertian bahwa kekuasaan menunjukkan pada kapasitas bahwa A harus mempengaruhi perilaku B sehingga B bertindak menurut harapan A. Seseorang dapat mempunyai kekuasaan, tetapi apabila tidak menggunakannya, maka menjadi kapasitas dan potensi. Aspek paling penting dari kekuasaan adalah fungsi dependency, ketergantungan. Semakin besar B tergantung pada A, maka semakin besar kekuasaan A dalam hubungan tersebut.
            Pengertian yang senada dikemukan oleh McShane dan Von Glinov (2010,300) yang menyatakan bahwa kekuasaan sebagai kapasitas seseorang, tim atau organisasi untuk empengaruhi orang lain.
            Kekuasaan yang diberi pengertian sebagai kemampuan membujuk seseorang lain untuk melakukan sesuatu yang ingin kita lakukan atau kemampuan membuat segala sesuatu terjadi atau membuat segala sesuatu dilakukan dengan cara yang kita inginkan (Schermorhorn, Hunt, Osborn, dan Uhl-Bien, 2011:278)
            Dengan demikian, dapat dikatakn bahwa power atau kekuasaan pada hakikatnya adalah kapasitas atau kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk membujuk, mempengaruhi dan membuat orang lain tergantung padanya dan bersedia melakukan apa yang diinginkannya.
Kekuatan Pemimpin
Untuk mendapat mempengaruhi orang lain, maka pada diri seorang pemimpin di perlukan adanya suatu “kekuatan” (power) agar dapat mengarahkan atau mempengaruhi orang lain pada pencapaian tujuan. Pada dasarnya, dalam suatu organisasi telah “disiapkan” kekuatan yang dapat digunakan oleh pimpinan untuk mempengaruhi atau mengatur bawahannya, yaitu :
Legitimasi pemakaian kekuatan, merupakan kekuatan yang sah dimiliki oleh seorang pemimpin, karena ia ditunjuk atau diangkat dan dipercayakan untuk menduduki posisi tersebut. Dengan demikian orang lain atau bawahannya menyadari bahwa atasannya dapat memerintah dirinya atau mengaturdirinya dalam bertingkah laku untuk mencapai tujuan berkelompok.
1.      Coercive power, merupakan kekuatan yang dimiliki oleh pemimpin untuk mengontrol atau mengawasi bawahan, dan ia dapat mengatur bawahannya apabila melakukan pelanggaran, serta member sanksi kepada bawahannya. Dengan demikian, posisinya tersebut memang memberikan peluang untuk melakukan hal tersebut, sejalan dengan proses pencapian tujuan.
2.      Reward power, merupakan kekuatan yang dimiliki oleh pemimpin pada suatu posisinya, yang mana ia dapat memberikan penghargaan, pujian atau hadiah kepada bawahannya. Hal ini dilakukan oleh pemimpin karena bawahannya telah berhasil menunjukkan perilaku yang sesuai dengan pencapian tujuan.
3.      Expert power, merupakan kekuatan yang dimiliki oleh seseorang yang karena keahliannya, dan atau pengetahuannya, ia diakui oleh orang lain, sehingga orang lain tersebut dapat dipengaruhi olehnya. Kekuatan ini belum tentu terdapat pada seorang pemimpin, karena ia tidak mempunyai pengetahuan atau keahlian dalam bidang tersebut. Namun demikian, apabila seorang pemmpin memiliki kemampuan tersebut, maka kekuatan yang dimilikinya akan lebih lengkap.
4.      Referent power, adalah suatu kekuatan yang dimiliki oleh seseorang di mana ia selalu di gunakan sebagai tempat acuan. Pada pimpinan yang mempunyai pesona yang kharismatik, ia mempunyai kekuatan ini. Oleh karenanya, tidak seluruh pemimpin mempunyai kekuatan ini. Tokoh masyarakat (informal leader) biasanya memiliki kekuatan ini (Iskandar, 1990:47)
Dasar, Sumber dan Tipe Kekuasaan
Dasar atau Sumber kekuasaan menurut Robbins dan Judge (2011:455) dikelompokkan dalam kategori Formal Power dan Personal Power. Formal Power didasarkan pada posisi individu dalam organisasi yang dapat berasal dari kemampuan memaksa (coerce) atau menghargai (reward) atau dari kewenangan formal (formal authorit). Sedangkan personal power  bersumber pada karakteristik unik individu berupa keahlian (expertise), penghormatan (respect) dan kekaguman (admiration) orang lain. Penelitian mengindikasikan bahwa sumber personal power adalah yang paling efektif.
Schermerhorn, Hunt, Osborn, dan Uhl-Bien (2011:282) menunjukkan sumber kekuasaan lebih luas. Mereka mengelompokkan kekuasaan dalam position power dan personal power. Dalam position power mencakup: legitimate power, reward power, coercive power, process power, information power, dan resentative power. Sedangkan dalam personal power meliputi: expert power, rational persuation, refrent power, dan coalition power.
Sedangkan Gibson, Ivancevich, Donnelly, dan Konopaske (2012:292) mengelompokkan kekuasaan dalam interpersonal power mencakup: legitimate, reward, coercive,. Sedangkan kelompok lainnya adalah structural dan situational power meliputi: resources, decision-making power, dan informationpower. Disamping itu, ada interdepartemental power meliputi: coping with uncertainty, centrality, dan substitutability.
Adanya perbedaan pengelompokkan terhadap macam-macam kekuasaan tersebut tidak perlu diperdebatkan karena di satu sisi bersifat saling melengkapi, di sisi lain karena masing-masing mempunyai penekanan sudut pandang sendiri. Kita dapat mengikuti salah satu dari sudut pandang mereka atau melakukan kombinasi diantaranya, disesuaikan dengan kenyataan yang kita hadapi.
Keseluruhan tipe, jenis, dasar atau sumber kekuasaan tersebut di atas dapat dijelaskan seperti dibawah ini.
a.       Coercive Power: Dasar kekuasaan memaksa tergantung pada atas ketakutan atas hasil negative dari kegagalan untuk mematuhi. Manajer dapat menolak reward yang diharapkan yang menadministrasikan hukuman untuk mengontrol orang lain.
b.      Reward Power: Kepatuhan dicapai berdasar pada kemampuan mendistribusikan reward yang dipandang berharga olehorang lian. Menunjukkan tingkatan dimana menajer dapat menggunakan hak komando untuk mengontrol orang lain.
c.       Legitimate Power: Kekuasaan yang diperoleh secara sah karena posisi seseorang dalam kelompok atau hirakhi formal suatu organisasi. Disebut pula sebagai kewenangan formal dimana manajer dapat menggunakan hak komando untuk mengontrol orang lain.
d.      Process Power: Kekuasaan untuk mengontrol atas metode produksi dan analisis. Kekuasaan di sini menempatkan individu dalam posisi mempengaruhi bagaimana masukan ditransformasi menjadi keluaran unyuk organisasi.
e.       Representative Power: Hak formal yang diberikan pada individu oleh organisasi ang memungkinkan mereka berbicara sebagai perwakilan kelompok terdiri dari individu dari lintas departemen atau diluar organisasi
f.        Expert Power: Kekuasasan yang didasarkan atas keterampilan khusus, keahlian atau pengetahuan yang dimiliki oleh pemimpin dimana para pengikutnya menganggap bahwa orang itu mempunyai keahlian yang relevan dan yakin keahliannya itu melebihi keahlian mereka sendiri.
g.       Referent Power: Suatu kekuasaan yang didasarkan atas daya tarik seseorang, seorang pemimpin dikagumi oleh pra pengikutnya karena memiliki suatu ciri khas, bentuk kekuasaan ini secara populer dinamakan kharisma. Pemimpin yang memiliki daya kharisma yang tinggi dapat meningkatkan semangat dan menarik pengikutnya untuk melakukan sesuatu, pemimpin yang demikian tidak hanya diterima secara mutlak namun diikuti sepenuhnya.
h.       Rational Persuation: Kemampuan mengontrol perilaku orang lain karena melalui usaha individu, orang menerima harapan tujuan yang ditawarkan dan cara yang beralasan untuk mencapainya.
i.         Coalition Power: Kemampuan mengontrol perilaku orang lain secara tidak langsung karea individu berutang kewajiban kepada kita atau orang lain sebagai bagian kepentingan kolektif yang lebih besar.
j.        Resources Power: Kekuasaan terjadi ketika orang mempunyai saluran terbuka pada sumber daya: Uang, pekerja, teknologi, bahan dan pelanggan. Dalam organisasi, sumber daya penting dialokasikan ke bawah sepanjang garis organisasi.
Proses-proses memimpin
1.      Para pemimpin membuat keputusan-keputusan.
Mereka mengembangkan suatu proses dimana ditetapkan suatu pola tidakan berdasarkan pilihan antara sejumlah alternative-alternatif huna tujuan mencapai sesuatu hasil yang diinginkan.
2.      Para pemimpin memusatkan perhatian mereka atas sasaran-sasaran.
Mereka memotivasi bawahan mereka untuk bersama-sama mencapai sasaran0sasaran yang telah ditetapkab oleh organisasi. Apabila terjadi penyimpangan-penyimpangan dari sasaran-sasaran, maka para pemimpin capat harus mengoreksinya.
3.      Para pemimpin merencanakan dan menyusun kebijaksanaan-kebijaksanaan.
Artinya, mereka mengantisipasi masa yang akan datang, dan berusaha untuk menemukan macam-macam pola tindakan alternatif.
Mereka menggariskan pedoman petunjuk-petunjuk untuk keputusan-keputusan masa yang akan datang.
Para pemimpin mengorganisasi dan menempatkan (Staf) pekerja-pekerja di dalam jabatan-jabatan yang ada.
Mereka menggunakan sebuah proses, dimana ditetapkan struktur dan alokasi jabatan-jabatan, setelah mana orang-orang ditetapkan pada jabatan-jabatan tersebut.
Para pemimpin melaksanakan komunikasi dengan para bawahan, para kolega dan para superior mereka
Mereka menueruskan ide-ide kepada pihak lain dengan tujuan untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan.
Para pemimpin memimpin dan mensupervisi.
Maksudnya, mereka mengusahakan agara pihak bawahan mereka bekerja kearah pencapaian sasaran-sasaran dan tujuan-tujuan umum.
Para pemimpin mengawasi aktivitas-aktivitas.
Artinya, mereka menggunakan proses-proses yang dapat mengukur hasil pekerjaan dan kemudian memimpinnya ke arah tujuan yang di tetapkan semula.
KARAKTERISTIK PEMIMPIN
1.      Charismatic Leaders
Charisma menurut kamus adalah sebuah kekuatan yang luar biasa dan dianggap sebagai keajaiban. Pemimpin yang karismatik terlihat menginspirasi pengikutnya untuk mencintai pemimpinnya, di lain waktu pemimpin yang karismatik menawarkan pengikut mereka dengan harapan untuk bebas dari penderitaan. Secara umum, pemimpin yang karismatik memiliki kemampuan untuk mengkomunikasikan sebuah kekuatan yang luar biasa dan visi kepada pengikutnya atau kemampuan untuk mencapai tujuan yang dapat menghapuskan penderitaan pengikutnya.
2.      Machiavellianism
Pemimpin Machiavellianism percaya bahwa:
a.         Orang lain pada dasarnya lemah, mudah disalahkan, mudah dicurangi, dan tidak dapat dipercaya,
b.         Orang lain adalah objek yang bersifat umum,
c.         Seseorang seharusnya memanipulasi orang lain kapan pun itu diperlukan untuk mencapai tujuan.
Richard Christie menyatakan bahwa pemimpin Machiavellianism yang dapat memengaruhi pengikutnya untuk alasan pribadi dan politik memiliki 4 karakteristik yaitu:
1.      Pemimpin terlibat secara emosional terhadap relasi interpersonal.
2.      Pemimpin mengambil pandangan utilitarian dari pada pandangan moral terhadap interaksi mereka dengan orang lain, mereka tidak peduli dengan moralitas konvensional.
3.      Pemimpin berhasil memanipulasi pengikut berdasarkan persepsi yang akurat mengenai kebutuhan pengikutnya.
4.      Pada akhirnya dampak dari manipulasi yang sukses adalah fokus pada menyelesaikan sesuatu dari pada mencapai tujuan jangka panjang. Pemimpin Machiavellianism sedikit memiliki komitmen yang ideologis.

1 komentar:

  1. hallo kak. salam kenal, isi blognya kakak bagus bagus, btw dari mana nih kak sumbernya?, rekomendasiin dong kak. boleh?

    BalasHapus