Senin, 11 Desember 2017

KEPEMIMPINAN DALAM DINAMIKA KELOMPOK


Hakekat Kepemimpinan
Pada masa sekarang, seringkali terdengar pernyataan mengapa konsep mengenai pemimpin yang ideal pada setiap tingkatan organisasi begitu sulit dipahami. Pernyataan demikian muncul disebabkan oleh adanya kesalahpahaman mengenai konsep kepemimpinan, yang dimulai dari pandangan bahwa kepemimpinan adalah sesuatu yang dimiliki atau dicapai, atau mempersepsikannya sama dengan seseorang, posisi, dan atau jabatan.
Gregory A. Gull, sebagai pendiri Practicum Unlimited, mengatakan bahwa pemikiran mengenai konsep kepemmpinan sebagai suatu hak milik atau posisi merupakan hal yang sia-sia dan menyesatkan. Pandangan ini sesuai dengan orientasi kaum elit, membangun penghalang, melindungi hak istimewa sebagian kecil orang untuk mengarahkan atau mengendalikan nasib banyak orang, mempertahankan dan sekaligus mengistimewakan posisi pemegang kekuasaan dan mempertahankan perasaan kebergantungan dan iri hati.
Bagi pemimpin yang tidak menyadari bahwa dirinya adalah seorang pemimpin, maka karenanya tidak memiliki rencana untuk bertindak secara efektif setiap saat menjalankan peran tersebut, dan biasanya cenderung berfokus pada pekerjaan atau pada diri sendiri dan bukan pada karyawannya. Tak dapat disangkal bahwa pemimpin tersebut akan memimpin tanpa berpikir atau tanpa kendali, suatu pola sikap dan pendekatan yang tanpa disadari menciptakan hambatan pada motivasi dan kinerja dari para karyawan yang secara tidak sadar adalah orang yang dipimpinnya (White, 2002: 3).
Kepemimpinan merupakan ‘suatu usaha mempengaruhi orang, antar perorangan (interpersonal), lewat proses komunikasi untuk mencapai sesuatu atau beberapa tujuan’ (Gibson, 1997: 263). Hal ini menunjukkan bahwa pola mempengaruhi karyawan atau orang lain, bagaimana komunikasi kepemimpinan dengan orang lain menjadi tolok ukur kepemimpinannya.
Leadership is the ability to influence a group toward the achievement of goals’ (Robbins, 2002: 3). Kepemimpinan merupakan kemampuan mempengaruhi suatu kelompok ke arah pencapaian tujuan. Pengertian kepemimpinan ini menunjukkan bahwa yang mendasari seseorang menjadi seorang pemimpin adalah kemampuannya dalam mempengaruhi orang lain  sehingga orang lain mau bekerjasama untuk mencapai tujuan tertentu.
‘Leadership is the process of influencing others to work toward the attainment of specific goals’ (Pearche dan Robinson, 1989: 483). Kepemimpinan merupakan suatu proses mempengaruhi orang lain untuk bekerja ke arah pencapaian tujuan tertentu. Sementara itu, Daft (2000: 502) mendefinisikan kepemimpinan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi orang-orang ke arah pencapaian tujuan.  Pengaruh mempunyai makna bahwa hubungan di antara orang-orang tersebut tidak pasif, tetapi sebaliknya bersifat dinamis. Selanjutnya, pengaruh tersebut didisain untuk mencapai tujuan tertentu. Kepemimpinan merupakan suatu proses di mana terjadi di antara orang-orang yang saling berinteraksi dan saling mempengaruhi. Kepemimpinan merupakan suatu kegiatan orang-orang, berbeda dari gerakan kertas administratif atau kegiatan pemecahan masalah. Dengan demikian kepemimpinan adalah dinamis dan melibatkan penggunaan kekuasaan.
‘Leadership is the directing the behavior of others toward the accomplishment of some objectives. Directing in this sense, means causing idividuals to act in a certain way  or to follow a particular course’ (Certo,  1985: 319). Kepemimpinan merupakan proses mengarahkan perilaku orang lain ke arah pencapaian beberapa tujuan. Pengarahan dalam hal  ini adalah cara-cara yang dipergunakan agar orang lain mau  bertindak dalam suatu cara  tertentu atau mengikuti cara tertentu yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan.
Kepemimpinan adalah “perilaku dari seorang individu yang memimpin aktivitas–aktivitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang  ingin dicapai bersama ( shared goal )” (Hemhill dan Coons, 1957 : 7). Pengertian ini menunjukkan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan pemimpin dalam memimpin pelaksanaan kegiatan-kegiatan organisasi. Kepemimpinan adalah “proses mempengaruhi aktivitas–aktivitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan” (Rauch dan Behling, 1984: 46). Dengan demikian kepemimpinan akan memunculkan pengaruh antar pribadi, yang dijalankan dalam situasi tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi, ke arah pencapaian suatu atau beberapa tujuan tertentu” (Tannenbaum, et al., 1961: 24).
Definisi-definisi mengenai kepemimpinan mencerminkan asumsi bahwa kepemimpinan menyangkut sebuah proses pengaruh sosial yang dalam hal ini pengaruh yang sengaja dijalankan oleh seseorang terhadap orang lain untuk menstruktur aktivitas-aktivitas serta hubungan-hubungan di dalam sebuah kelompok atau organisasi. Kepemimpinan adalah “Proses–proses mempengaruhi, yang mempengaruhi interpretasi mengenai peristiwa–peristiwa bagi para karyawan, pilihan dari sasaran–sasaran bagi kelompok atau organisasi, pengorganisasian dari aktivitas–aktiitas kerja untuk mencapai sasaran–sasaran tersebut, motivasi dari para pengikut untuk mencapai sasaran, pemeliharaan hubungan kerja sama dan teamwork, serta perolehan dukungan dan kerja sama dari orang–orang yang berada di luar kelompok atau organisasi” (Yukl, 1997: 4). Sikap dari para karyawan terhadap pemimpin tersebut adalah indikator umum lain dari efektivitas seorang pemimpin. Dengan demikian efektivitas pemimpin diukur dalam hubungannya dengan kontribusi pemimpin terhadap kualitas.
Analisis Masalah
Permasalahan dalam dinamika kelompok, pada dasarnya merupakan permasalahan interaksi antara pimpinan dengan bawahannya atau antar anggota kelompok tersebut. Melalui pengamatan yang dilakukan, maka beberapa kondisi dan indikator yang dapat digunakan antara lain, situasi konflik atau adanya kekompakan pada kelompok tersebut, tinggi atau rendahnya produktivitas anggota kelompok atau kelompok tersebut, tinggi atau rendahnya produktivitas anggota kelompok atau kelompok tersebut, sering atau tidaknya pergantian aparat pemerintahan desa.  
Pada kelompok yang banyak atau sering terjadi konflik pada kelompoknya, hal ini akan menunjukan bahwa energy yang digunakan oleh kelompok tersebut adalah tidak efektif atau tujuan kelompoknya tidak atau belum tercapai. Namun dengan demikian, apabila konflik tidak muncul, tidak berarti bahwa tujuan kelompok tercapai. Hal ini perlu di gali lebih lanjut, apakah mereka mempunyai program perencanaan yang baik atau tidak. Karena pada organisasi interaksi yang paternalistic akan banyak dijumpai, sehingga energi yang ada tidak digunakan secara efektif. Hal ini berarti bahwa hanya digunakan didalam kelompok dan anggota lebih banyak menunggu perintah dari pimpinan.
Keefektifan Kepemimpinan
Seorang pemimpin dapat di katakana efektif apabila dapat mencapai tujuannya. Agar mampu mencapai tujuan seorang pemimpin  diharapkan mempunyai kompetensi  sesuai dengan kepentingan organisasi. Disamping itu masih banyak factor yang memengaruhi efektivitas kerja. Karena itu dibutuhkan pemimpinan yang cerdas dan terampil, serta memiliki kompetensi.
1.      Kompetesi kepemimpinan
Kopetensi kepemimpinan adalah keterampilan, pengetahuan, bakat, dan karakteristik personal lain yang mengarahkan pada kinerja unggul
(McShane dan von glinow, 2010:362). Kompetensi yang perlu dimiliki pemimpinan yang efektif adalah:
a.       Personality, perhatian pemimpin atas masalah lahirlah tinggi (ramah, aktif berbicara, suka bergaul, dan tegas)dan kesadaran (berhati-hati, diandalkan, dan disiplin diri).
b.      Self-concept. Keyakinan diri dan evaluasi diri positif pemimpin  tentag keterampilan kepemimpinan sendiri dan kemampuan untuk mencapai sasaran.
c.       Drive. Motivasi diri dari dalam diri untuk mengejar tujuan.
d.      Integrity. Keadaan dan kecenderungan pemimpin untuk menerjemahkan kata-kata kedalam perbuatan.
e.       Leadersip motivation. Kebutuhan mensosialisasikan kekuasaan pemimpin untuk menyelesaikan tujuan tim atau organisasi.
f.        Knowledge of the business. Tacit dan explicit knowledge pemimpin tentang lingkungan perusahaan yang memungkinkan pemimpin membuat keputusan intuitif.
g.       Cognitive  and practical intellingence. Kemampuan kognitif pemimpin  di atas rata-rata untuk memproses informasi( congnitive intelligence)dan kemampuan menyelesaikan masalah dunia nyata dengan menyesuaikan pada  bentuk, atau menseleksi lingkungan yang sesuai(practical intellingence).
h.       Emotional integlligence. Kemampuan pemimpin memonitor emosinya sendiri atau orang lain, mendikriminasi di antara mereka, dan menggunakan informasi membimbing pemikiran dan tindakan mereka.

2.      Faktor Yang Mempengaruhi Efektivitas Kepemimpinan

Mengapa beberapa pemimpin lebih efektif dari yang lainya, menurut Colquitt,LePine dan Wesson (2011: 503) dalam Wibowo (2013: 292) efektivitas kepemimpinan dipengaruhi oleh tiga unsur yaitu: pemilihan gaya pengambilan keputusan secara optimal, bauran perilaku seharihari secara optimal, dan bauran perilaku transactionaldan transformasionalsecara optimal.Pilihan gaya pengambilan keptusan adalah directive style, facilitative style, consultative style, dan consideration style. Bauran perilaku sehari hari adalah antara initiating structure dan consideration. Sedangkan bauran perilaku terdiri dari: laissez faire, transactional, passive management by exception, active management by exception,contigent reward, dan transformational.
Pada laissez faire, tindakan penting tertunda, tanggung jawab diabaikan, dan kekuasaan serta pengaruh tidak dimanfaatkan. Pada gaya passive management by exception, pemimpin menunggu sampai terjadi kesalahan, dan kemudian melakukan tindakan koreksi yang diperlukan. Pemimpin tidak melakukan tindakan sampai diterima keluhan. Pada gaya active management by exception, pemimpin mengatur memonitor kesalahan secara aktif dan melakukan tindakan koreksi apabila diperlukan. Pemimpin mengarahkan perhatianya pada kegagalan untuk mencapai standar.
Contigent reward menunjukan kepemimpinan transaksional yang lebih aktif dan efektif dimana pemimpin mendapat persetujuan pengikut tentang apa yang harus dilakukan dengan menggunakan janji atau aktual rewardsebagai tukaran kecukupan kinerja. Pemimpin membuat jelas apa yang dapat diharapkan untuk diterima seseorang apabila tujuan kinerja tercapai. Transactional leadership merupakan pendekatan yang paling aktif dan efektif , dan secara universal diusahan diseluruh budaya (Wibowo, 2013)
Sedangkan Menurut H. Joseph Reitz (1981) factor-faktor yang mempengaruhi efektivitas pemimpin meliputi : 
a.       Kepribadian (personality) pengalaman masa lalu dan harapan pemimpin
b.      Harapan atau perilaku atasan
c.       Karakteristik harapan atau perilaku bawahan
d.      Kebutuhan tugas
e.       Iklim dan kebijakan organisasi
f.        Harapan dan perilaku rekanan
3.      Memperbaiki Efektivitas Kepemimpinan
            Peter Drucker memberikan Sembilan pedoman untuk memperbaiki efektivitas kepemimpinan (kreitner dan kinicki, 2010: 477):
a.       Pertimbangan apa yang perlu dilakukan.
b.      Pertimbangan apa yang baik untuk dilakukan kesejahteraan seluruh perusahaan atau organisasi.
c.       Kembangkan rencana tindak dengan memerinci hasil yang diharapkan, kemungkinan mengendalikan, revisi masa depan, dan implikasi tentang bagaimana seseorang menggunakan waktunya.
d.      Mengambil tanggung jawab atau keputusan.
e.       Mengambil tanggung jawab untuk mengomunikasikan rencana tindak dan memberi orang informasi yang mereka perlukan untuk menjalankan pekerjaan.
f.        Memfokus pada peluang daripada masalah. Jangan menaruh masalah di bawah karpet, dan memperlukan perubahan sebagai peluang daripada sebagai tantangan.
g.       Menjalankan pertemuan yang produktif. Tipe pertemuan yang berbeda memerlukan bentuk persiapan berbeda dan hasil berbeda, persiapkan sesuai dengan kebutuhan.
h.       Berfikir dan katakana “kami” daripada “saya” pertimbangkan keperluan dan peluang organisasi sebelum berpikir peluang dan kebutuhan sendiri.
i.         Dengarkan dulu, baru berbicara kemudian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar