Senin, 11 Desember 2017

Resume buku struktur fundamental pedagogic bagian tujuan pendidikan Paulo Freire


Tujuan pendidikan menurut freire adalah humanisasi. Menurut Ki Hajar Dewantara humanisasi yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Ki Hajar Dewantara menambahkan bahwa untuk mengetahui kodrat alam itu perlulah orang memiliki budi yang bersih dan termanifestasi pada angan-angan yang tajam, halusnya rasa , dan suci kuatnya kemauan, yaitu sempurnanya cipta-rasa-karsa dan ketiganya haruslah sakti, oleh karena itu disebut trisakti jiwa. Akal bisa sakti jika ia mampu mencipta, hati bisa sakti jika ia mampu merasa, dan kehendak bisa sakti jika ia mampu mengkarsa. Konsep tentang trisakti jiwa akan penulis jabarkan sebagai berikut:
1.    Cipta
Cipta dapat diartikan sebagai daya berfikir yang bertugas mencari kebenaran akan sesuatu dengan jalan membandingkan, mencari beda dan samanya. Cipta juga merupakan aktivitas berfikir untuk memperoleh ketentuan mana yang benar dan mana yang salah. Pendidikan sebagai humanisasi harus mengkondisikan peserta didik menjadi subjek yang mampu mencipta, daya cipta merupakan kesaktian dari akal. Oleh karena itu pendidikan harus tertuju pada pemberdayaan kesaktian dari akal yaitu cipta.
2.    Rasa
Rasa adalah gerak-gerik hati kita, yang menyebabkan kita mau tidak mau merasa senang atau susah, sedih atau gembira, malu atau bangga, puas atau kecewa, berani atau takut, marah atau berbelas kasih, benci atau cinta, dan seterusnya. Kepekaaan hati yang mampu merasa akan menuntun manusia untuk senantiasa melakukan tindakan kebaikan secara konsisten dan ajeg. Tindakan amoral yang bertentangan dengan nilai kebaikan secara konsisten dan ajeg. Tindakan amoral yang bertentangan dengan nilai kebaikan universal akan membuat hatinya merasa tidak nyaman, gelisah, dan berdosa.
3.    Karsa

Karsa merupakan kemauan atau kehendak yang timbul seakan-akan sebagai hasil buah fikiran dan perasaan. Menurut pendapat Ki Hajar Dewantara karsa merupakan kemauan atau kehendak yang tidak bersifat instingtif, jika kemanuan dikendalikan oleh hawa nafsu yang bersifat kasar dan rendah layaknya insting hewani, maka kehendak manusia akan melahirkan tindakan destruktif. 

RESUME BUKU FILSAFAT PENGETAHUAN BAGIAN EVOLUSI ILMU



Keluarga adalah bagian penting untuk membangun dinamika umat. Hanya melalui keluargalah segala hal tercipta. Tidak mungkin satu keluarga mempu menumbuhkan nubuwah, jika spectrum keluarga itu tidak mampu disemai dengan bentuknya yang kokoh dalam menanam nilai-nilai kebaikan.
Ilmu tidak mungkin lahir tanpa dialektika di dalamnya. Harus diakui, dialketika telah memberangus kebenaran mutlak yang disyaratkan dalam kebenaran mistik. Perdebatan ini, sekaligus juga telah menunjukan lahirnya dua basis metodis dalam meperolah ilmu pengetahuan. Dua basis itu terbentuk dalam dua logika berpikir, yakni logika matematik sebagaimana digagas Thales dan Anaximenes serta logika matematik sebagaimana diperagakan Anaximander ketika menyebut bahwa asas kehidupan itu adalah sesuatu yang tidak berhingga.


KONSELING KELOMPOK DENGAN PENDEKATAN PSIKOANALITIK


1.    Langkah-Langkah konseling kelompok dengan pendekatan Teori Psikoanalitik
1.      Tahap Persiapan dalam Bentuk Analisis lndividu
Pada tahap ini konselor kelompok memilih para peserta yang cocok untuk melaksanakan kegiatan kelompok yang akan dipimpinnya. Perlu diusahakan bahwa mereka memiliki kondisi yang sesuai dengan kegiatan kelompok. Kondisi itu diantaranya kemampuan untuk mengadakan kontak dengan kenyataan, kemampuan untuk berhubungan secara pribadi, luwes, dan potensi untuk menjadi katalisator dalam kegiatan kelompok
2.      Tahap Pembentukan Hubungan Melalui Penafsiran Mimpi dan Fantasi
Pada tahap kedua ini merupakan sarana untuk mengembangkan iklim saling mempercayai diantara anggota-anggota kelompok, hal tersebut juga memungkinkan menghadirkan kesan-kesan tertentu antar sesama anggota kelompok.
3.      Interaksi Melalui Asosiasi Bebas Antarpribadi (Interpersonal Free Association)
Ditandai penggunaan yang mendalam tentang asosiasi bebas, yaitu komunikasi tanpa sensor mengenai perasaan dan pemikiran seseorang secepat hal itu muncul dalam ingatannya; hal ini juga mengandung arti bahwa keberhasilan tahap kedua dicerminkan dengan terjadinya asosiasi bebas atau berjalannya tahapan ketiga ini, jika pada tahapan ini didapati bahwa anggota terlihat canggung dalam pengeksplorasian maka, bukan tidak mungkin bahwa ia merasa belum nyaman atau mempunyai kesan negatif atau semacamnya pada tahap sebelumnya.
4.      Tahap Analisis Penolakan
Pada tahap ini penolakan itu muncul secara jelas pada waktu setiap anggota kelompok melakukan penafsirannya tentang mimpi dan mengadakan asosiasi bebas tentang anggota-anggota lainnya. Tahap perkembangan kelompok ini dapat diumpamakan sebagai masa pemberontakan kelompok menentang konselor. Mereka mempertahankan dirinya dengan cara mengisolasikan diri, memberikan alasan-alasan rasional, dan mengarahkan pembicaraan kepada hal-hal yang mendetail mengenai aturan kegiatan dalam kelompok.
5.      Tahap Analisis Pengalihan
Pada tahap ini konselor benar-benar perlu menemukan ketakutan setiap anggota kelompok untuk mengubah dirinya dan juga mengenai trauma yang menahan perkembangan dirinya. Pada tahap ini, seyogyanya dibangun "persekutuan kerja" dalam kelompok, yaitu suatu bentuk kerja sama yang sehat dan realistik antara para anggota kelompok dengan konselor serta diantara anggota kelompok itu sendiri.

6.      Tahap Tindakan Pribadi yang Disadari dan lntegrasi Sosial
Tahap ini ditandai dengan berakhirnya distorsi pengalihan yang sangat kuat yang terjadi dalam kelompok. Pada tahap ini terdapat suatu pola berbagi kepemimpinan dan pemisahan diri serta penyadaran individual yang realistik. Distorsi pengalihan kelompok terhadap konselor telah ditangani secara tuntas dan para anggota kelompok memandang konselor lebih realistis. Tujuan tahap ini adalah untuk membantu konseli menemukan cara-cara yang lebih efektif untuk berhubungan dengan orang lain dan meningkatkan pertumbuhan pribadi konseli sehingga konseli itu dapat berpikir mancari dan berdiri sendiri dalam  perbuatannya. Selanjutnya Glading (Supriatna, N (2009: 30 – 31) dalam pelakasanaan proses konseling kelompok psikonalisa terdapat lima teknik dasar yang digunakan yaitu: 
a). Asosiasi bebas (Free Association)
Dalam praktik konseling kelompok penggunaan asosiasi bebas (free association) sebagaimana dikemukakan Corey (1990) asosiasi bebas merupakan tipe“free-floating discussion” atau mengadakan diskusi bebas anggota menyampaikan perasaan dan kesan mereka dengan segera. Asosiasi bebas ( Free Association) merupakan teknik utama dari terapi psikoanalitik yang merupakan suatu rnetode penataan kernbali pengalaman-pengalaman masa lalu dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi-situasi traumatik di masa lalu, yang dikenal dengan sebutan katarsis. Katarsis hanya rnenghasilkan peredaan sementara atas pengalarnan-pengalaman rnenyakitkan yang dialarni konseli, tidak rnemainkan peran utama dalarn proses treatment psikoanalitik kontemporer; katarsis rnendorong konseli untuk rnenyalurkan sejumlah perasaannya yang terpendam, dan karenanya meratakan jalan bagi pencapaian pernahaman. Untuk rnembantu konseli dalam memperoleh pernaharnan dan evaluasi diri yang lebih objektif, analis menafsirkan makna-makna utarna dari asosiasi bebas.
Menurut Natawidjaja (Supriatna, N. 2009: 31) tujuan asosiasi bebas dalam konseling kelompok adalah untuk mendorong para konseli menjadi lebih bersikap spontan dan membukakan proses-proses yang tidak disadari sehingga mereka memperoleh wawasan yang lebih jelas mengenai psikodinamika dalam dirinya sendiri. Dalam proses layanan, tugas konselor adalah membantu konseli untuk mendapatkan pemahaman dan evaluasi diri yang obyektif. Dalam hal ini, konselor harus dapat memberikan tafsiran makna dari asosiasi bebas, yaitu mengungkap dan mengenali perasaan yang dikurung dalam ketidaksadaran konseli. Selanjutnya konselor menyampaikan hasil tafsirannya kepada koseli, membimbing konseli ke arah peningkatan pemahaman atas dirinya secara obyektif. Dengan demikian konseli akan mendapatkan pemahaman yang benar atas situasi yang sedang dihadapinya.
b). Penafsiran
Penafsiran adalah suatu prosedur dasar dalam menganalisis asosiasi-asosiasi bebas, mimpi-mimpi, resistensi-resistensi, dan transferensi-transferensi. Prosedurnya terdiri atas tindakan-tindakan analisis yang menyatakan, menerangkan, bahkan mengajari konseli terhadap makna-makna tingkah laku yang dimanifestasikan oleh mimpi-mimpi asosiasi bebas, resistensi-resistensi, dan oleh hubungan terapeutik itu sendiri.
Nandang Rusmana (2009: 32) mengatakan bahwa dalam melakukan penafsiran, seorang konselor mesti tepat waktu, karena ketidaktepatan waktu dalam melakukan penafsiran akan berakibat pada kemungkinan munculnya penolakan dari konseli. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa ada tiga aturan umum dalam melakukan penafsiran, yaitu: pertama; disajikan pada saat gejala yang hendak ditafsirkan itu dekat dengan kesadaran konseli, kedua; penafsiran harus berawal dari permukaan serta menembus hanya sedalam konseli mampu menjangkaunya, terutama saat konseli mengalami situasi itu secara emosional, dan ketiga; resistensi atau pertahanan, paling baik ditunjukkan sebelum dilakukan penafsiran atas emosi atau konflik yang ada di baliknya.
c). Transferensi
Transferensi muncul dengan sendirinya dalam proses terapeutik pada saat di mana kegiatan-kegiatan konseli masa lalu yang tak terselesaikan dengan orang lain, menyebabkan ia merubah masa kini dan mereduksi kepada analisis sebagai yang dia lakukan kepada ibu dan ayahnya. Kini, dalam hubungannya dengan konselor mengalami kembali perasaan penolakan atau permusuhan yang pemah dialami terhadap orang tuanya. Jadi transferensi merupakan upaya memproyeksikan emosi yang tidak tepat kepada pemimpin atau anggota yang lain Hansenet at. all, (Gladding, 1991). Transferensi dalam psikoanalisis kelompok memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan dengan psikoanalisis indiviudal Thompson dan Kahn, 1970 (Gladding,1991).
d). Analisis mimpi
Analisis mimpi adalah sebuah prosedur yang penting untuk menyingkap bahan yang tak disadari dan memberikan kepada konseli pemahaman atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan. Selama tidur, pertahanan-pertahanan melemah, dan perasaan-perasaan yang direpresi muncul ke permukaan. Freud memandang mimpi-mimpi sebagai jalan istimewa menuju ketidaksadaran, sebab melalui mimpi-mimpi itu hasrat-hasrat, kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan-ketakutan yang tidak disadari, diungkapkan. Beberapa motivasi sangat tidak bisa diterima oleh orang yang bersangkutan sehingga diungkapkan dalam bentuk yang disamarkan atau disimbolkan alih-alih diungkapkan secara terang-terangan dan langsung. Mimpi-mimpi memiliki dua taraf isi, yaitu isi laten dan isi manifest. Isi laten terdiri atas motif-motif yang disamarkan, tersembunyi, simbolik, dan tak disadari. Karena begitu menyakitkan dan mengancam, dorongan-dorongan seksual dan agresif tak sadar yang merupakan isi laten ditransformasikan ke dalam isi manifest yang lebih dapat diterima, yakni impian sebagaimana yang tampil pada si pemimpi. Proses transformasi isi laten mimpi ke dalam isi manifest yang kurang mengancam itu disebut kerja mimpi. Tugas analis adalah menyingkap makna-makna yang disamarkan dengan mempelajari simbol-simbol yang terdapat pada isi manifest mimpi. Selama jam analitik, analis bisa meminta konseli untuk mengasosiasikan secara bebas sejumlah aspek isi manifest impian guna menyingkap makna-makna yang terselubung.
e). Analisis dan penafsiran transferensi
Hubungan transferensi juga memungkinkan konseli mampu menembus konflik-konflik masa lampau yang tetap dipertahankannya hingga pada masa sekarang dan bentuk-bentuk yang menghambat pertumbuhan emosionalnya. Transferensi disini ialah mengalihkan, bisa berupa perasaan dan harapan masa lalu. Dalam hal ini, konseli diupayakan untuk menghidupkan kembali pengalaman dan konflik masa lalu terkait dengan cinta, seksualitas, kebencian, kecemasan yang konseli bawa ke masa sekarang selanjutkan diserahkan ke konselor..
f). Wawasan dan penanganan (insight and working trough)
Wawasan berarti kesadaran akan sebab-sebab dari kesulitan seseorang pada masa kini. Dalam model psikoanalitik wawasan juga berarti kesadaran intelektual dan emosional tentang hubungan antara pengalaman-pengalaman masa lampau dengan masalah masa kini. Jadi, apabila para anggota kelompok mengharapkan perubahan dalam beberapa aspek kepribadiannya, maka mereka harus mengenali penolakan dan pola perilakunya yang lama. Ini merupakan proses yang lama dan sulit. Penanganan secara tuntas itu merupakan aspek yang sangat kompleks dalam psikoanalisis dan mempunyai tuntutan yang mendalam. Penanganan tuntas ini merupakan suatu proses yang cocok untuk menaggulangi konflik-konfilk yang tidak terpecahkan, sikap dan kebutuhan, penolakan, pengalihan terhadap pemimpin kelompok dan rekan sekelompoknya dan hal-hal lain yang tidak terpecahkan dimasa lampau. Proses penanganan tuntas merupakan tahap akhir darikelompok psikoanalitik dengan hasil bertambahnya kesadaran dan integrasi.

2.    Masalah yang dikaji dalam konseling kelompok dengan pendekatan Teori Psikoanalitik
Contoh beberapa masalah yang bisa dikaji dengan teori ini antara lain:
1.    Masalah dalam menjalin hubungan dengan orang lain
2.    Masalah yang berhubungan dengan akademik, depresi, kecemasan, trauma.
3.    Masalah dimasa lalu yang mengganggu fungsi seseorang melakukan aktifitasnya sehari-hari.

3.    Sikap konselor dalam konseling kelompok dengan pendekatan teori Psikoanalitik
Karakteristik psikoanalisis adalah terapis atau konselor membiarkan dirinya anonym serta hanya berbagi sedikit perasaan serta pengalaman sehingga klien memproyeksikan dirinya kepada konselor. Proyeksi-proyeksi klien, yang menjadi bahan terapi, ditafsirkan dan dianalisis. Konselor terutama berurusan dengan usaha membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hubungan personal, dalam menangani kecemasan secara realistis, serta dalam memperoleh kendali atas tingkah laku yang impulsive dan irasional terhadap kelompok.
Fungsi serta peran konselor disesuaikan dengan karakteristik dan penekanan kelompok yang di pimpinnya. Tahapan perkembangan kelompok juga merupakan variable penting. Seperti suatu peran, konselor sebagai pemimpin kelompok psikoanalisis sebaiknya objektif, menghangatkan. Fungsi lain dari konselor sebagai pemimpin kelompok sebagaimana Natawidjaja (2009: 194) meliputi: (1) Menciptakan iklim yang mendorong anggota-anggota kelompok menyatakan dirinya secara bebas (2) Manyatakan batas antara perilaku dalam kelompok dan perilaku di luar kelompok (3) Memberikan dukungan terapeutik apabila anggota kelompok tidak memberikannya (4) Membantu para anggota menghadapi dan menangani penolakan dalam diri mereka sendiri atau dalam kelompok sebagai satu kesatuan (5). Menumbuhkan kemandirian anggota-anggota kelompok dengan cara berangsur-angsur melepaskan fungsi-fungsi kepemimpinan-nya dan dengan mendorong interaksi diantara para anggota kelompok (6) Menarik perhatian para anggota kepada aspek-aspek yang samar-samar dalam perilaku para anggota kelompok, dan melalui pertanyaan-pertanyaan kepada mereka, membantu mereka meniti dirinya lebih jauh dan lebih dalam.

CYBER COUNSELING

A.       Latar Belakang
Perkembangan teknologi sekarang ini telah banyak menunjukkan kemajuan yang luar biasa. Banyak hal dari sektor kehidupan yang telah menggunakan keberadaan dari teknologi itu sendiri. Kehadirannya telah memberikan dampak yang cukup besar terhadap kehidupan umat manusia dalam berbagai aspek dan dimensi. Tidak bisa dipungkiri manusia pada era modern seperti saat ini tidak bisa menjauhkan dirinya dari berbagai kecanggihan yang diduguhkan oleh teknologi tersebut. Semua hal yang ada didunia ini pasti dipengaruhi oleh teknologi. termasuk dalam dunia Bimbingan dan koseling, kini dalam dunia BK dikenal istilah Cyber Konseling yaitu konseling yang menggunakan koneksi internet sebagai medianya.
Layanan bimbingan dan konseling ini merupakan salah satu model pelayanan konseling yang inovatif dalam upaya menunjukkan pelayanan yang praktis dan bisa dilakukan dimana saja asalkan ada koneksi atau terhubung dengan internet. 

B.       Tinjauan Pustaka
1.      Pengertian Media Berbasis teknologi
Dalam Buku Pengantar Ilmu Komunikasi (Cangara, 2006 : 119), media adalah alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak. Ada beberapa pakar psikologi memandang bahwa dalam komunikasi antarmanusia, maka media yang paling dominasi dalam berkomunikasi adalah pancaindera manusia seperti mata dan telinga. Pesan – pesan yang diterima selanjutnya oleh pancaindera selanjutnya diproses oleh pikiran manusia untuk mengontrol dan menentukan sikapnya terhadap sesuatu, sebelum dinyatakan dalam tindakan. Menurut Roger (1983) teknologi adalah suatu rancangan (desain) untuk alat bantu tindakan yang mengurangi ketidakpastian dalam hubungan sebab akibat dalam mencapai suatu hal yang diinginkan. Jacques Ellul (1967) mengartikan teknologi sebagai keseluruhan metode yang secara rasional mengarah dan memiliki ciri efisiensi dalam setiap kegiatan manusia.


2.      Pengertian Cyber Konseling
Cyber Counseling adalah salah satu strategi bimbingan dan konseling yang bersifat virtual atau konseling yang berlangsung melalui bantuan koneksi internet. Dalam hal ini proses konseling berlangsung melalui internet dalam bentuk web-site, e-mail, facebook, videoconference dan ide inovatif laninnya. Sudah tentunya apabila ingin menjalankan strategi ini yang menjadi piranti utamanya adalah koneksi dengan internet tersebut.
3.      Kelemahan Cyber Konseling
Kelemahan dalam cyber counseling, yaitu:
a.    Biaya awal untuk mempersiapkan cyber counseling yang cukup besar, seperti : komputer dan aplikasinya, internet dan perangkatnya.
b.    Profesionalitas kemampuan konselor dalam penguasaan teknologi. Bagi konselor maupun siswa/atau konseli yang awam dengan internet sudah tentunya tidak bisa menjalankan program ini, sehingga perlulah diadakan pelatihan khusus
c.    Tinggi rendah sinyal internet. Besar kecilnya sinyal internet akan sangat mempengaruhi kecepatan koneksinya, terutama dalam menjalankan videoconference yang membutuhkan sinyal internet yang baik.
d.    Upaya memanajemen strategi layanan. Bagaimana pihak konselor memanajemen layanan ini akan menentukan keberhasilan tujuan yang akan dicapainya.
e.    Keikhlasan konselor untuk memberikan layanan secara non formal. Bagi konseli yang membutuhkan layanan di luar jam sekolah/non formal, dibutuhkan keiklasan tersendiri.
f.      Pemanfaatan internet untuk tindakan yang negatif. Supaya tidak memberikan pengaruh negatif pada siswa dari belajar internet, maka sejak dini siswa diajarkan pula dasar budi pekerti sebagai landasan untuk mengetahui baik buruknya suatu tindakan yang dilakukan.
4.      Kelebihan Cyber Konseling
Adapun kelebihan menggunakan strategi layanan bimbingan dan konseling berbasis cyber counseling yaitu:
a.    Layanan konseling dapat berlangsung di luar jam sekolah maupun di sekolah. Apabila ada konseli/siswa yang dirasa kurang mendapatkan pelayanan konseling di sekolah karena alasan kurangnya waktu, maka bisa melanjutkan di luar jam sekolah atas kesepakatan yang sudah ditetapkan oleh konselor dengan siswa di sekolah.
b.    Dapat menghemat waktu. Melalui cyber counseling, konselor dapat melakukan layanan dimana saja walaupun tempatnya berjauhan, terutama bagi siswa yang membutuhkan layanan saat itu juga. Disamping itu, lewat website yang dibuat pada masing-masing sekolah, siswa bisa mengakses informasi yang dibutuhkan dengan cepat.
c.    Menghemat biaya. Khususnya bagi konselor yang menggunakan model videoconference untuk berkomunikasi antar konselor, bisa langsung bertatap muka secara virtual, sehingga dengan fasilitas ini akan dapat menekan biaya bila tempat antar konselor berjauhan.
d.    Dapat meningkatkan kualitas konselor dan siswa terutama dalam penguasaan teknologi khususnya internet dan komputer di zaman yang semakin berkembang.
e.    Sekolah atau perguruan tinggi yang menjalankan cyber counseling sudah tentunya memiliki nilai lebih dalam aspek strategi layanan bimbingan dan konseling berbasis teknologi.
f.      Bagi mereka yang belum mengenal internet, dengan adanya sosialisasi cyber counseling maka konselor yang masih awam akan bisa mempelajarinya. Dengan demikian tidak ada istilah ketinggalan jaman atau gagap teknologi. Sudah tentunya hal tersebut diimbangi dengan usaha dan kemauan keras untuk menguasai teknologi tersebut, dan lain sebagainya. 
5.      Manfaat Cyber Konseling
6.       Strategi layanan BK berbasis Cyber Konseling
a.         Layanan Bimbingan dan Konseling Berbasis Website
Website adalah sebuah cara untuk menampilkan diri di Internet. Dapat diibaratkan Website adalah sebuah tempat di Internet, siapa saja di dunia ini dapat mengunjunginya, kapan saja mereka dapat mengetahui tentang sesuatu, memberi pertanyaan kepada kita, memberikan anda masukan dan dapat mendownload data yang ditampikan. Website/weblog memungkinkan untuk dapat melakukan layanan informasi yang terkait dengan bimbingan dan konseling. Dalam melakukan layanan ini, sudah tentunya harus memiliki website atau weblog tersendiri yang sudah online di internet. Dengan dimilikinya alamat web oleh masing-masing konselor pada setiap sekolah, maka tidak menutup kemungkinan bagi konselor untuk menulis berbagai hal yang berkaitan dengan bimbingan dan konseling di instansinya. Adapun jenis layanan yang bisa diupayakan lewat website adalah lebih cendrung pada layanan informasi ,tentang bimbingan pribadi,karir, belajar,dan sosial. Untuk dapat memenuhi layanan tersebut, maka konselor sudah pastinya menulis berbagai informasi yang dibutuhkan oleh siswa pada alamat website yang sudah dibuat di atas. Misalnya membuat layanan informasi mengenai segala hal yang terkait dengan TI dalam BK seperti tampak pada gambar. Dengan demikian seyogyanya konselor memiliki bahan yang lengkap untuk ditampilkan di alamt websitenya. Dengan mengupayakan layanan ini, konselor akan lebih banyak menghemat waktu dari segi penyampaiannya, diabndingkan penyampaian di sekolah akan memakan cukup banyak waktu. Dengan menyampaikan materi layanan di website ini maka konseli/siswa dapat mengakses atau mendownload data tersebut kapanpun juga.
b.      Layanan Bimbingan dan Konseling Berbasis E-Mail
E-mail merupakan cara baru untuk berkomunikasi secara cepat dan efektif melalui surat elektronik di internet. Sudah tentunya untuk dapat menjalankan hal ini maka konselor dan siswa harus punya alamat e-mail masing-masing. Dalam upaya membuat e-mail ini, bisa dibuat pada alamat yahoo dengan alamat http/www.yahoo.com atau di google dengan alamat http/www.gmail.com. Ketika alamat tersebut dibuka di internet, secara langsung sudah terdapat cara untuk membuatnya. Pada dasarnya, orang lebih populer membuat alamat e-mailnya di yahoo. Dalam cyber counseling ini kita mengupayakan fasilitas yang ada di link dalam bentuk e-mail. Adapun jenis layanan yang bisa diupayakan lewat e-mail yaitu : Layanan konsultasi. Layanan ini bisa diupayakan lewat menulis e-mail antara konselor dengan konseli, dimana konseli menulis perihal yang akan dikonsultasikan kepada konselor, Layanan informasi. Layanan ini bisa diupayakan oleh konselor untuk menulis pesan lewat e-mail kepada konseli yang membutuhkan informasi (sesuai dengan kebutuhan konseli,baik dalam  bidang belajar,karir,sosial maupun tentang kepribadian) dan layanan lain yang bisa dikembangkan oleh konselor itu sendiri. Layanan konseling berbasis e-mail ini akan sangat berguna dalam upaya menumbuhkan hubungan kehangatan antara konselor dengan siswa terutama bagi siswa atau konseli yang malu untuk bertatap muka langsung. Melalui layanan ini setidaknya sejak awal sudah tercipta suatu keakraban yang selanjtnya dapat dilanjutkan dalam proses konseling di sekolah sesuai dengan kesepakatan yang sudah dibuat.
c.         Layanan Bimbingan dan Konseling Berbasis Videoconference
Videoconference atau konferensi video merupakan bagian dari dunia teleconference. Video conference dapat diartikan sesuai dengan suku katanya, yaitu video = video, conference = konferensi, maka video conference adalah konferensi video dimana data yang di-transmisikan adalah dalam bentuk video atau audiovisual. Videoconference adalah telekomunikasi dengan menggunakan audio dan video sehingga terjadi pertemuan ditempat yang berbeda-beda. Ini bisa berupa antara dua lokasi yang berbeda(point-to-point) atau mengikutsertakan berberapa lokasi sekaligus di dalam satu ruangan konferensi(multi-point). Dalam cyber counseling ini, kita mengupayakan program yahoo messenger  yang sekiranya sudah popular dikalangan dunia internet atau software khusus yang dikenal dengan skype yang dapat didownload di alamat www.skype.com. Untuk mengunakan program ini kita bisa dapatkan dengan mendownload di internet atau membeli pada toko komputer yang khusus menjual software. Sudah tentunya untuk menjalankan layanan ini, pada masing-masing sekolah disediakan sarana internet, komputer dengan camera (webcam) atau laptop sebagai piranti utama untuk menjalankan program ini. Melalui videoconference ini antar konselor serta siswa/ konseli bisa bertatap muka secara langsung walaupun bersifat virtual, maka bentuk layanan yang bisa diupayakan adalah tergantung kreasi dari konselor itu sendiri. Sebagai gambaran, adapun bentuk layanan bimbingan dan konseling yang bisa diupayakan yaitu: layanan konsultasi, layanan Informasi,layanan konseling individual,layanan konseling kelompok,beserta layanan lain yang bisa dikembangkan oleh masing–masing konselor dan sesuai dengan kebutuhan konseli.

d.         Layanan Bimbingan dan Konseling Berbasis Telepon
Pada prisipnya, kita hidup dalam dunia yang selalu berkembang, istilah telepon tidak asing lagi terdengar di telinga kita. Bahkan benda tersebut sudah menjamur ke pelosok-pelosok negeri sebagai alat komunikasi canggih jarak jauh. Telepon yang kita kenal di masyarakat apabila dikelola dengan baik untuk menjalankan suatu strategi pelayanan komunikasi khususnya dalam aspek pelayanan bimbingan dan konseling, sudah tentunya akan menjadi cara inovatif dalam mendukung kegiatannya. Telepon berasal dari suku kata ”tele” artinya jauh dan ”phone” artinya suara. Jadi telepon adalah suara jarak jauh. Seperti kita kenal di zaman yang semoderen ini, bahwa telepon merupakan barang elektronik yang mempermudah melakukan telewicara dan pengiriman pesan secara otomatis. Apabila media hanphone ini dimanage secara baik, maka ada beberapa layanan yang bisa diupayakan, yaitu: Layanan Konsultasi, Konseling Individual, bimbingan karir,bimbingan belajar dan jenis layanan yang lain sesuai dengan daya kreativitas konselor itu sendiri. Sudah tentunya, untuk menjalankan layanan ini harus ada kesepakatan antara konselor dengan konseli untuk menjalankan layanan tersebut. Supaya lebih efektif, sudah tentunya konselor memiliki hanphone khusus yang merupakan sarana yang diperoleh dari sekolah atau secara pribadi (tergantung kondisi keuangan sekolah). Biasanya layanan ini lebih mengacu di luar seting jam sekolah, karena beberapa sekolah tidak diperbolehkan membawa hanphone ke sekolah. Layanan ini akan dapat berjalan dengan baik, apabila dalam proses mengirim sms atau telepon langsung didasai dengan etika yang benar sesuai dengan kesepakatan. 
C.       Fungsi dan manfaat Cyber konseling
Strategi layanan bimbingan dan konseling berbasis Cyber counseling yang dilakukan melalui konseksi internet secara virtual ini memiliki beberapa fungsi yang sifatnya inovatif, yaitu:
a.    Pada dasarnya, konselor dan siswa yang belum mengenal internet, secara langsung dapat mendapat pengetahuan di bidangnya, sehingga tidak ketinggalan teknologi (gaptek=gagap teknologi) di jaman yang selalu berkembang.
b.    Proses bimbingan maupun konseling dapat dilakukan di luar jam sekolah, sehingga tidak mengganggu jam pelajaran. Hal ini ditujukan pada siswa yang belum dirasa cukup mendapatkan bimbingan di sekolah.
c.    Dengan dibuatnya web-site khusus oleh masing-masing konselor dalam instansinya, maka siswa akan bisa dengan cepat memperoleh informasi yang diinginkannya, misalnya melihat nilai ujian lewat internet, informasi tentang persyaratan sekolah dan lain sebagainya.
d.    Waktu akan lebih efesien. Dengan berkembangnya teknologi internet lewat komputer atau lewat hanphone yang sudah dilengkapi aplikasi internet, hubungan virtual antara konselor dengan konselor maupun antar konselor dengan siswa akan bisa berlangsung di mana saja asalkan ada sinyal atau koneksi internet.
Sudah tentunya, untuk memenuhi fungsi tersebut, selain penguasaan teknologi internet, konselor juga harus membuat kode etik tersendiri, melakukan kesepakatan dengan siswa/konseli untuk diberlakukannya cyber counseling ini. Dengan adanya kesepakatan, maka strategi ini akan dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan, misalnya pengaturan waktu, penggunaan bahasa yang sopan dan santun dalam menulis surat elektronik atau pada lembar chatting dan lain sebagainya. 

INOVASI DAN KREATIFITAS DALAM BK

A.     Pengertian inovasi dan kreativitas
Inovasi adalah suatu ide, hal-hal yang praktis,metode,cara,barang-barang buatan manusia yang diamati sebagai suatu hal yang benar-benar baru bagi seseorang atau kelompok (masyarakat) yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk memecahkan suatu permasalahan.
Inovasi dalam bidang BK adalah suatu ide,metode, cara atau barang yang dibuat oleh guru bimbingan dan konseling yang diamati sebagai suatu hal yang benar-benar baru yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk memecahkan masalah dalam bidang bimbingan dan konseling.
B.     Faktor inovasi dan kreativitas
Kreativitas dan inovasi seseorang dapat timbul karena bakat, minat, lingkungan, dan pendidikan.
1.      Bakat
Bakat seseorang merupakan pendorong utama untuk melakukan kegiatan yang kreatif dan inovatif. Setiap orang memiliki bakat sendiri-sendiri. Contoh: seseorang yang berbakat seni akan terdorong untuk melakukan kegiatan kreasi dan inovasi di bidang seni dan menghasilkan nyanyïan, lagu-lagu, atau gending-gending kreasi baru dan lain-lain.
2.      Minat
Minat adalah rasa senang seseorang terhadap sesuatu. Bila seseorang merasa senang terhadap sesuatu, maka la akan melakukan usaha yang kreatif dan inovatif yang berhubungan dengan sesuatu yang ia senangi, Contoh: seseorang yang senang beternak lele, maka ia akan berusaha untuk dapat beternak lele dengan baik, mencari ilmu tentang beternak lele, membuat cara-cara beternak lele yang baik dan cara-cara memanfaatkan/memasarkan hasil-hasilnya.
3.      Lingkungan
Lingkungan adalah situasi dan kondisi yang meliputi kehidupan seorang. lingkungan sangat berpengaruh terhadap kreativitas dan inovasi seseorang, karena dalam kehidupan sehari-hari setiap orang akan berhubungan satu sama lain dan saling memengaruhi.
4.      Pendidikan
Bakat dan minat seseorang merupakan faktor utama kreativitas dan inovasi seseorang. Agar tercapai hasil kreativitas dan inovatif yang sempurna, maka bakat dan minat tersebut harus dilatih dan dididik dengan baik.

C.     Kesamaan/perbedaan inovasi dan kreativitas
Persamaan:
1.      Baik Kreativitas ataupun Inovasi melewati proses generating ideas.
2.      Kreativitas dan Inovasi merupakan hubungan sebab-akibat. Inovasi biasanya disebabkan oleh adanya kreativitas dan tanpa kreativitas inovasi sulit dihadirkan. Tapi inovasi tidak mutlak disebabkan oleh kreativitas.
3.      Dari kreativitas dan inovasi, sesuatu yang BARU dimunculkan atau disalurkan
4.      Kreatif dan inovatif sama-sama menginspirasi manusia dalam pola pikir, attitude maupun behavior (inspiring people)
5.      Sikap kreatif dan inovatif merujuk ke hal-hal positif. Sebagian besar hasil kreativitas dan inovasi merupakan produk/proses/ide yang bermanfaat bagi manusia hingga membuat hal-hal menjadi lebih simpel dan mudah

Perbedaan:
1.      Kreatif berarti melakukan atau mengembangkan sesuatu dengan cara baru. Inovatif berarti memunculkan sesuatu yang baru dari dasar yang sudah ada.
2.      Baru dari kreativitas adalah pengembangan sesuatu yang baru.Makna baru dalam inovasi berarti newness (kebaruan), bukan original
3.      Kreativitas digunakan untuk menunjuk kepada tindakan penghasilan ide-ide baru, sedangkan inovasi merupakan proses pembuatan dan penghasilan uang dari ide-ide kreatif pada beberapa konteks tertentu.
4.      Kreativitas adalah titik awal dari inovasi. Inovasi merupakan kerja keras yang mengikuti pembentukan ide
D.     Urgenisasi inovasi dan kreativitas
Urgensi Inovasi dan Kreativitas dalam Bimbingan dan Konseling
1.      Urgensi Inovasi dalam Bimbingan dan Konseling
Dengan perkembangan tersebut maka menimbulkan masalah dan tantangan baru serta lebih berat bagi siswa / konseli. Robert B Tucker (2001) mengidentifikasi adanya sepuluh tantangan di abad 21 yaitu:
1)      kecepatan (speed),
2)      kenyamanan (convinience),
3)      gelombang generasi (age wave),
4)      pilihan (choice),
5)      ragam gaya hidup (life style),
6)      kompetisi harga (discounting),
7)      pertambahan nilai (value added),
8)      pelayananan pelanggan (costumer service),
9)      teknologi sebagai andalan (techno age),
10)  jaminan mutu (quality control).

Menurut Robert B Tucker kesepuluh tantangan itu menuntut inovasi dikembangkannya paradigma baru dalam pendidikan seperti: accelerated learning, learning revolution, megabrain, quantum learning, value clarification, learning than teaching, transformation of knowledge, quantum quotation (IQ, EQ, SQ, dll.), process approach, Forfolio evaluation, school/community based management, school based quality improvement, life skills, dan competency based curriculum.

Tentang hal ini, Fullan & Stiegelbauer (1991) mengemukakan bahwa setiap inovasi seharusnya terdiri dari tiga elemen intrinsik, sebagai berikut:
a.       Bentuk (form), bentuk fisik yang dapat diamati secara langsung dan substansi yang terkandung dari sebuah inovasi. Misalnya, bentuk dari pendekatan bimbingan dan konseling komprehensif dapat dipahami sebagai layanan bimbingan dan konseling yang terintegrasi dengan proses pendidikan di sekolah dengan komponen program yang dirancang secara utuh dan saling berkaitan—layanan dasar bimbingan, layanan responsif, perencanaan individual, dan dukungan sistem.
b.      Fungsi (function), kontribusi atau manfaat yang dihasilkan dari inovasi terhadap kehidupan anggota dalam sistem sosial. Misalnya fungsi yang diperoleh dari pendekatan bimbingan dan konseling komprehensif ini adalah memfasilitasi pencapaian tugas-tugas perkembangan konseli yang memandirikan.
c.       Makna (meaning), intensitas manfaat yang diberikan inovasi terhadap pengguna inovasi sehingga dapat dipersepsi sebagai sesuatu yang penting dalam kehidupan individu dalam sistem sosial. Misalnya, bahwa melalui pendekatan bimbingan dan konseling komprehensif dapat mendorong aksesibilitas semua peserta didik dan pihak-pihak terkait kepala sekolah, guru, staf administrasi sekolah, orang tua siswa, dan profesi lainnya untuk terlibat dalam proses bimbingan dan konseling.
2.      Urgensi Kreativitas dalam Bimbingan dan Konseling
Meskipun kreativitas merupakan faktor yang penting dalam keberhasilan konseling, masih banyak konselor yang tidak menyadari dan tidak terlatih dalam mengakses dan memberdayakan kreativitas dirinya dan konseli (Hecker & Kottler, 2002).
Terdapat tiga faktor yang bersinergi untuk mendorong berkembangnya kreativitas dalam konseling, yaitu
a.         faktor kepribadian konselor dan konseli,
b.        faktor proses konseling
c.          faktor hasil konseling.
Faktor kepribadian merujuk pada kapasitas konselor untuk bersikap terbuka dan kesediaan bermain dengan ide atau pendekatan baru, kerja keras, persistensi, dan keberanian konselor dalam mengambil resiko yang terukur (Gladding, 2002. Dalam Carson & Becker, 2004). Konseling juga berkaitan dengan upaya konselor mengembangkan kapasitas-kapasitas ini dalam diri konseli.
Graham Wallas (dalam Gallagher, 1985) dalam penelitiannya mengidentifikasi empat tahap yang diperlukan dalam proses kreatif, yaitu:
1)      tahap persiapan yang mengacu pada kondisi kemampuan, bakat, minat, dan akumulasi pengalaman seseorang sebagai prasyarat proses kreatif.
2)      inkubasi yaitu tahap dimana berbagai informasi, pengalaman, gagasan mengalami pengendapan dan pengeraman,
3)      iluminasi yaitu tahap dimana seseorang mengalami semacam pencerahan, suatu kesadaran baru disebut dengan pengalaman “aha” dalam menemukan gagasan baru,
4)      verifikasi yaitu tahap menguji gagasan kreatif.